DALAM sistem manajemen yang baik dan modern, biasanya pengembangan wakaf dilakukan dengan manajemen modern. Sistem pengelolaannya sudah mengupayakan empat fungsi manajemen, yakni perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan.

Dalam penanganan aset wakaf, baik berupa lahan tanah persawahan produktif, maupun pengembangan aset wakaf dalam wilayah bisnis, dibutuhkan tenaga teknis yang lihai. Nadhir pengelola wakaf biasanya diduduki seorang kiai atau tokoh agama yang mendapat kepercayaan masyarakat.

Meminjam istilah Putnam (2003), nadhir yang sekaligus kiai sebagai pengelola wakaf setidak-tidaknya memiliki modal sosial yang memadai untuk menjadikan wakaf lebih berdaya kontribusi kepada umat.

Modal sosial yang dimiliki para nadhir dalam kelembagaan wakaf di antaranya adalah kepercayaan, norma, dan jejaring.

Sebagaimana hasil penelitian Endang Turmudi (2004) tentang kiai dan kekuasaan di Jombang bahwa kiai memiliki kekuatan dukungan posisi yang kuat di antaranya adalah karena ditopang pengetahuan luas, dan kekuatan materi yang kuat karena berasal dari keluarga berada. Lembaga wakaf harus dikelola oleh orang tepercaya dan manajemen andal pula.

Kepercayaan masyarakat pada kiai bisa menjadi potensi pengembangan kelembagaan. Masyarakat juga membutuhkan amanah dari para pengelola. Kepercayaan masyarakat atas lembaga wakaf sesungguhnya bagian dari pembenahan dari nadhir atas pola kinerjanya. Tingginya kepercayaan masyarakat merupakan cermin dari kekuatan majamen kelembagaan .

Kepercayaan
Menurut Antonio dalam Mubarok (2008), wakaf yang mendapatkan kepercayaan masyarakat lebih berpotensi mampu menjalankan wakaf secara produktif. Produktivitas wakaf ini dalam manajemen yang integratif bisa dilihat dari lembaga wakaf.

Wakaf produktif dinilai akan lebih membuka daya pengelolaan aset wakaf secara lebih profesional Profesionalisme pola pengelolaan wakaf dan pemberdayaan hasil wakaf secara produktif di kelembagaan wakaf sangat dipengaruhi faktor internal dan eksternal lembaga.

Secara ekternal, pembenahan dapat dilakukan dengan berbagai inovasi dari pengelola, baik pada model distribusi wakaf, maupun membangun sinergi dengan umat Secara internal, profesionalisme kelembagaan melalui penerapan sistem manajemen yang integrasi dari SDM nadhir dan pengelola operasionalnya, akan menjadi perpaduan sistem pengelolaan yang baik dan tepat guna.

Dibutuhkan kemauan bersinergi antarnadhir dalam membangun satu visi, dan memberdayakan harta wakaf untuk sebesar-besarnya kesejahteraan umat. (H15-14)

— Penulis adalah dosen Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf Ipmafa Pati, praktisi filantropi Islam Nusantara

Suara Merdeka 23 Juni 2017
Share To:

Post A Comment:

0 comments so far,add yours