Oleh Jamal Ma’mur Asmani
“Di hari suci ini, keluarga, kerabat, teman, tetangga, guru-murid, pejabat-rakyat, dan seluruh lapisan masyarakat bersilaturahmi satu dengan yang lain untuk menengok keadaan dan memohon maaf atas segala kesalahan”

LEBARAN atau Idul Fitri adalah momentum merajut kesalehan sosial. Setelah kesalehan ritual diperjuangkan umat Islam selama sebulan penuh dengan melaksanakan puasa, tarawih, tadarus Alquran, tahajjud, dan iktikaf, maka Lebaran atau Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk mewujudkan kesalehan sosial.

Kesalehan sosial adalah perilaku manusia yang menebarkan kemanfaatan dan menghindarkan kerusakan bagi orang lain. Kesalehan sosial dimulai dengan menunaikan zakat fitrah sebagai simbol kepedulian Islam terhadap nasib orang-orang fakirmiskin. Nabi bersabda: puasa bulan Ramadan digantungkan antara langit dan bumi dan tidak diangkat kecuali dengan zakat fitri (HR Abu Hafs Ibn Syahin).

Zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan orang yang berpuasa dari dosa-dosa yang dilakukan ketika sedang berpuasa dan sebagai sedekah kepada orang miskin.

Dalam membangun kesalehan sosial, silaturahmi menjadi kuncinya. Silaturahmi menambah keberkahan rizki dan memperlambat kematian (Abi Abdillah Abdussalam, Ibanah al-Ahkam, Juz 4, 2004, h. 342-343). Dalam bahasa modern, silaturahmi adalah media efektif untuk mengembangkan jaringan (networking relationship) yang berperan besar dalam mengantarkan kesuksesan seseorang di masa depan dan mengurangi beban hidup yang menumpuk. Pada era globalisasi informasi sekarang, jaringan adalah modal utama dalam meningkatkan kualitas di sektor mana pun, karena jaringan dapat dimanfaatkan untuk bersinergi dengan cepat. Tanpa sinergi antarkekuatan, seseorang akan terpinggirkan di tengah kompetisi yang sangat ketat.

Di sinilah hakikat dan hebatnya silaturahmi pada saat Idul Fitri, karena banyak manfaat yang bisa diambil, seperti harmonisasi sosial, meminimalisasi konflik, tukar-menukar informasi, menjalin kerja sama, dan menumbuhkan optimisme dalam menatap masa depan.

Silaturrahmi ini tidak hanya sesama umat Islam, tetapi universal, lintas sektoral. Umat Islam tidak boleh berpikir eksklusif dan ekstrem, tetapi harus toleran, inklusif, dan moderat. Sudah waktunya spirit ajaran Islam dikembalikan kepada visi besarnya, yaitu sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil-alamin). Kehadiran Islam tidak hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia dalam menebarkan persaudaraan, kerukunan, dan kedamaian hidup lahir dan batin. 

Piagam Madinah yang digagas Nabi di Madinah adalah prasasti sejarah yang harus diteladani umat Islam di seluruh dunia, bahwa persatuan dan kesetaraan adalah modal besar dalam membangun bangsa, sehingga tidak boleh mencaci maki, bermusuhan, berprasangka buruk dan melecehkan harga diri orang lain. Nabi bisa bekerja sama dengan nonmuslim di Madinah, sehingga stabilitas politik dan ekonomi terjaga dan kemajuan di sektor pendidikan dan keamanan tercapai dengan baik.

Open House
Open house pada waktu Idul Fitri yang diadakan para pejabat, mulai presiden, gubernur, bupati, wali kota, camat, kepala desa, tokoh agama dan masyarakat adalah budaya positif yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa, sehingga dari tahun ke tahun harus terus dikembangkan. Dalam open house, masyarakat bisa langsung bertemu dengan pemimpin tanpa aturan protokoler formal. Pemimpin langsung melihat masyarakatnya sebagai modal dalam mengevaluasi kepemimpinannya, apakah sudah menyejahterakan masyarakat apa belum, dan rakyat bisa menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pemimpin sebagai masukan berharga bagi pemimpin dalam merumuskan program dan kebijakannya.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah sila terakhir Pancasila yang menjadi tujuan pembangunan. Open house dapat dijadikan pemimpin sebagai salah satu parameter apakah program dan aplikasinya sudah sukses dalam menegakkan keadilan sosial atau belum. Dalam konteks ini, maka sangat baik bagi seorang pemimpin membuka ruang komunikasi, baik secara fisik maupun online, seperti twitter, facebook, dan sejenisnya, supaya masyarakat dapat menyampaikan gagasangagasan cemerlang kepada pemimpin kapan pun tanpa dihalang-halangi aturan birokrasi.
Tradisi silaturahmi saat Lebaran ini kemudian dikenal dengan istilah halalbihalal, yaitu tradisi saling memaafkan kesalahan dan memohon doa untuk keberkahan hidup. 

Di hari suci ini, keluarga, kerabat, teman, tetangga, guru-murid, pejabat-rakyat, dan seluruh lapisan masyarakat bersilaturahmi satu dengan yang lain untuk menengok keadaan dan memohon maaf atas segala kesalahan.

Kepada orang tua biasanya dibawakan bingkisan sebagai hadiah di hari kemenangan. Tradisi halalbihalal di Indonesia adalah buah perjuangan para penyebar agama Islam zaman dulu yang mampu membumikan ajaran sosial Islam pada waktu yang tepat. Dalam Islam, di antara sifat penghuni surga adalah suka menginfakkan harta dalam keadaan susah dan lapang, mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan, baik dengan memberikan kemanfaatan atau menolak bahaya kepadanya (Wahbah Zuhaili, Tafsir Munir, Juz 2, 2009, hlm. 411-414).
Dengan langkah ini, halalbihalal mampu menjadi momentum taubat nasional bagi bangsa. Dalam Islam, taubat jika berhubungan dengan manusia akan diterima Allah Swt jika memohon ampunan kepada manusia yang bersangkutan dan mengembalikan hal-hal yang diambil dengan jalan yang tidak benar (Muhyiddin Abi Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Riyadl al-Shalihin, hlm. 12-13).

Perbuatan zalim yang dilakukan harus dihapus saat Idul Fitri supaya menjadi manusia yang benarbenar fitri (suci), yaitu manusia yang konsisten memegang agama. Perbuatan zalim adalah menentang Allah dan mengambil hak orang lain dengan jalan batil (Ali As-Shabuni, Min Kunuzis Sunnah, hlm. 9 & 51).

Dalam konteks ini, maka jika pemimpin pernah mengorupsi uang rakyat, maka sudah semestinya di hari suci ini mereka mengembalikan uang tersebut kepada rakyat agar ke depan program pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kualitas pendidikan untuk rakyat berjalan secara optimal dan produktif. Tidak cukup bagi pemimpin sekadar memohon maaf tanpa mengembalikan uang rakyat yang dikorupsi.

Melihat besarnya makna Idul Fitri dalam membangun kesalehan sosial dan melaksanakan taubat nasional, maka umat Islam, khususnya para pemimpin tidak boleh pasif, dalam arti menunggu orang lain datang ke rumahnya, tetapi harus proaktif, yaitu bergegas mendatangi orang-orang yang berjasa dalam hidupnya, seperti kedua orang tua, dan orang-orang yang pernah kita sakiti, untuk segera memohon ampunan atas segala dosa. Mental proaktif ini harus dibangun pada umat Islam, supaya mereka tidak kalah cepat dalam menjemput peluang yang ada di depan mata. Kecepatan menjadi keniscayaan di era kompetisi. Siapa yang kalah cepat, maka dia tersingkir. Khusus untuk pemimpin, Idul Fitri ini harus melecutkan semangatnya dalam mengabdi dan melayani rakyat, khususnya mereka yang hidupnya serba kekurangan. Pemimpin harus membuka mata dan hati, bahwa ternyata kemiskinan dan pengangguran di Indonesia masih sangat besar, sehingga dibutuhkan kerja keras untuk mengatasinya.

Semoga Idul Fitri ini menjadi momentum introspeksi dan evaluasi total untuk merajut masa depan yang cerah demi kebangkitan bangsa tercinta. (42)

— Jamal Ma’mur Asmani, peneliti Pusat Studi Pesantren Fiqh Sosial Institute Ipmafa Pati, pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (Asosiasi Pondok Pesantren NU) Jawa Tengah
Semoga Idul Fitri ini menjadi momentum introspeksi dan evaluasi total untuk merajut masa depan yang cerah demi kebangkitan bangsa tercinta.(42)
Sumber: Suara Merdeka
Share To:

Post A Comment:

1 comments so far,Add yours