Top News


Pelatihan Manajemen Zakat dan Wakaf yang diselenggarakan di MA Arrohman Kec. Bulu, Kab. Rembang menjadi tempat pertama roadshow Prodi ZAWA IPMAFA untuk wilayah luar kota Pati. MA Arrohman ini menjadi salah satu percontohan pembaga pendidikan tingkat SMA yang dapat menggerakkan dan menggalakan iuran kas setiap dua kali dalam satu minggu bagi setiap siswa.

"Pengumpulan dana tersebut digunakan untuk menopang kebutuhan atau operasional di dalam ruang lingkup sekolah seperti kegiatan pramuka, keorganisasian atau kebutuhan lain selain mamemanfaatkan dana dari Bos (Bantuan Operasional Sekolah)." tutur H.Imam Islahudin SPdi selaku kepala madrasah. 

Jika dalam lingkup sekolah MA Arrohman ini mampu menggerakkan kesadaran iuran kas, maka tidak menutup kemungkinan bahwasannya untuk menggerakkan zakat, infak, sedekah ataupun wakaf akan lebih mudah terealisasi. 

Sebagai kader generasi pemuda NU, perubahan yang lebih baik dari sekarang ini menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam, dimana NU menjadi organisasi terbesar tapi belum mampu menyentuh atau menggerakkan mengelola ziswaf (zakat, infak, sedekah, dan wakaf) dengan baik dibandingkan dengan organisasi lainnya. 

Harapannya masyarakat nanti mampu membumikan, menggalakkan, menggerakkan, dan mengelola potensi ziswaf ini dengan profesional. Saatnya kader-kader NU juga mampu mengemban tugas shidiq, tabligh, amanah dan fathonah yang dimulai di ruang lingkup kecil yaitu dari sekolah.(Senin,11/12/2017).

Dua hari ini, mulai hari senin (13 - 14 November 2017) roadshow pelatihan manajemen zakat wakaf IPMAFA sukses dilaksanakan di tiga Madrasah Aliyah meliputi MA Manabi'ul Falah,MA NU Luthful Ulum dan MA Roudlotus Syuban. Tujuan pelatihan ini untuk memberi wawasan sejak dini para siswa tentang kesadaran berzakat sekaligus bagaimana pengelolaan zakat yang baik.


Di hari pertama, bapak Sholah, Kepala Sekolah MA Manabi'ul Falah Ngemplak, menyampaikan sangat menyambut baik dan berterimakasih karena IPMAFA melalui mahasiswa program studi Manajemen Zakat Wakaf dapat memberikan pelatihan penting dalam rangka mengedukasi anak sedini mungkin tentang zakat dan wakaf. 


Sholah menambahkan bahwa MA Manabi'ul Falah menerima baik atas usulan pendirian LAZIS berbasis osis agar siswa mampu menerapkan manajemen zakat wakaf di sekolah.


Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, MA NU Luthful Ulum Pasucen dan MA Roudlotus Syuban Sekarjalak juga sangat menyambut baik adanya pelatihan ini sehingga banyak siswa dan santri yang terlibat dalam forum tersebut.

Seperti diketahui, saat ini zakat belum mampu dikelola secara optimal, sehingga diharapkan generasi penerus nantinya memiliki semangat untuk mampu menggerakkan geliat zakat di Indonesia agar lebih optimal dan dapat mengentaskan kemiskinan dan problematika ekonomi umat. (Ast - Asfy) 

PATI- Gerakan penyadaran untuk berzakat ditanamkan sejak dini. Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Ipmafa) Pati belakangan gencar melakukan penyadaran tersebut. Pemahaman atas pentingnya zakat kepada generasi muda seperti dilakukan di Madrasah Aliyah NU Miftahul Huda Gabus, Senin (13/11).

Dalam pelatihan manajemen zakat dan wakaf itu, Ketua Prodi Manajemen Zakat Wakaf Ipmafa Dr Jamal Ma’mur Asmani MA hadir langsung memberi pencerahan.

Dia memaparkan, zakat telah dirintis Nabi Muhammad sejak di Makkah melalui ajaran tolong menolong. Nabi juga membangun persaudaraan yang erat antar umat Islam.

Satu dengan lainnya saling menguatkan. ”Secara formal, zakat diperintahkan pada tahun kedua hijriyah di Madinah, setelah posisi Islam kuat. Ini menunjukkan, bahwa efektivitas pengelolaan zakat membutuhkan intervensi negara dengan kekuatan struktural dan aparat penegak hukumnya.

Tanpa peran negara, potensi besar zakat tidak bisa digali secara maksimal,” ujarnya dalam acara yang dibuka Rois Syuriyah MWC NU Gabus Kiai Abdurrahman Adam. Lebih lanjut dia menjelaskan, di Indonesia memiliki potensi zakat yang besar.

Potensi zakat secara nasional mencapai Rp 280 triliun. Dari potensi itu baru tergali Rp 4,5 triliun melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ).

”Kondisi ini terbilang mengejutkan atau bahkan ironi. Karena Indonesia merupakan negara berpenduduk muslim terbesa di dunia,” katanya. Menurutnya, untuk lebih menggalakkan penghimpunan zakat perlu meningkatkan kapasitas kelembagaan Baznas dan LAZ.

Manajemen yang diterapkan harus berbasis transparansi, akuntabilitas, partisipasi aktif, totalitas, dan profesionalitas. ”Jangan sampai lembaga zakat dikelola secara amburadul dan hanya menggunakan waktu sisa.

Zakat dapat tegak sebagaimana haji jika dikelola dengan prinsip totalitas, sehingga pikiran dan usaha dikerahkan untuk mengelola zakat dari perencanaan, pembagian kerja, pelaksanaan, pelaporan, dan pengawasan intensif,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, semua amil zakat juga harus memenuhi sejumlah kriteria. Mereka harus mempunyai integritas moral (jujur dan tanggung jawab) dan kapabilitas memadai (visioner dan komunikatif). (H49-52)

Sumber: Suara Merdeka

Sabtu (11/11/2017) Prodi Managemen Zakat Wakaf (ZAWA) IPMAFA mengadakan pelatihan manajemen zakat wakaf perdana di MA NU Miftahul Huda. Pelatihan ini dilaksanakan untuk membekali para siswa maupun santri agar memiliki wawasan praktis tentang zakat wakaf. Pelatihan tersebut sekaligus melatih siswa tidak hanya mendorong siswa menjadi shalih secara ritual tetapi juga shalih secara sosial.

"Jika sholat adalah keshalihan ritual, maka zakat sebagai keshalihan sosial" terang Dr. Jamal Ma'mur MA selaku Kepala Prodi ZAWA IPMAFA dalam sambutannya.

Diharapkan, pelatihan ini menjadi bekal bagi siswa siswi yang ingin menjadi generasi penerus amil zakat atau nadhir wakaf supaya lebih amanah, tabligh, fathonah dan profesional. Bukan hanya paham zakat dan wakaf dalam konteks ke-fiqhan tapi diharapkan lebih mampu untuk mengelola dalam konteks kekinian atau modern.

Beliau juga menambahkan, bahwa seandainya MA NU Miftahul Huda dapat mendirikan Lazis (lembaga amil zakat) yang berbasis OSIS. Ini tentu sangat baik, karena siswa-siswi dapat diajari betapa pentingnya berzakat sejak dini.


Rencananya, pelatihan ini akan diadakan secara berturut-turut di berbagai lembaga pendidikan setingkat Madrasah Aliyah dan pesantren untuk mengedukasi para siswi maupun santri tentang pentingnya melaksanakan rukun islam ke 3 ini. 
(Asfy - Ast)

Sabtu (11/11/2017) Prodi Managemen Zakat dan Wakaf IPMAFA mengadakan pelatihan manajemen zakat wakaf perdana di MA NU Miftahul Huda Pati. Pelatihan diikuti oleh para siswa Madrasan Aliyah Miftahul Huda dan sejumlah guru yang hadir dalam acara.
Pelatihan ini dilakukan agar para siswa maupun santri nantinya memiliki wawasan yang luas tentang zakat wakaf. Pengetahuan tentang zakat dan wakaf dirasa sangat penting agar tercipta kader-kader filantropi Islam yang lebih banyak sehinggal pengelolaan zakat semakin baik dan profesional. Zakat pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dari kehiupdan manusia khususnya masyarakat Muslim.
“Jika sholat adalah keshalihan ritual, maka zakat sebagai keshalihan sosial.”, tutur Dr Jamal Makmur, Kepala Prodi Manajemen Zakat dan Wakaf IPMAFA.
Diharapkan dari pelatihan ini menjadi bekal bagi siswa siswi yang ingin menjadi generasi penerus amil zakat atau nadhir wakaf supaya lebih amanah, tabligh, fathonah dan profesional. Bukan hanya paham zakat dan wakaf dalam konteks ke-fiqhan tapi diharapkan lebih mampu untuk mengelola dalam konteks kekinian atau modern.
Jamal menambahkan bahwa seandainya MA NU Miftahul Huda bisa mendirikan Lazis (lembaga amil zakat) yang berbasis OSIS, ini tentu sangat baik karena siswa-siswi dapat diajari betapa pentingnya berzakat sejak dini.
Rencananya, pelatihan ini akan diadakan secara berturut-turut di berbagai lembaga pendidikan setingkat Madrasah Aliyah dan pesantren untuk mengedukasi para siswi maupun santri tentang pentingnya melaksanakan rukun islam ke 3 ini.
(Asfy – Ast)



Sejarah membuktikan kesuksesan zakat karena peran besar negara. Sejak Nabi dan khalifah empat, khususnya Abu Bakar Ashshiddiq, zakat menjadi program utama negara untuk kemajuan bangsa dan umat. Intervensi negara dibuktikan dengan otoritas yang diberikan negara kepada amil zakat untuk mendata muzakki dan mustahiq, menarik dgn paksa harta zakat dari muzakki, mengelola dalam bentuk distribusi dan pendayagunaan sektor produktif, pelaporan secara online dan print out, dan audit internal dan eksternal. 
Abu Bakar memerangi orang yang ingkar zakat (munkiruz zakah) karena bukti mereka lalai terhadap hak sosial. Semua itu untuk menjamin transparansi, akuntabilitas, integritas, dan profesionalitas pengelolaan zakat untuk membangun kepercayaan (trust) publik. 

Yusuf al Qaradlawi dalam Fiqhuz Zakah menjelaskan fungsi amil secara lengkap, baik administrasi, fundraising, distribusi (konsumtif-produktif), audit, dan pelaporan. Semua fungsi itu membutuhkan anggaran dan negara wajib menyediakan anggaran cukup spy amil bisa bekerja scr fulltime, all-out, dan totalitas, tidak setengah-setengah. 

Dalam konteks Indonesia, UU Zakat memberikan keleluasaan badan amil zakat nasional (baznas) untuk menggunakan uang APBN, APBD1 dan 2, untuk operasional dalam bentuk administrasi, sosialisasi, dan koordinasi. Untuk lembaga amil zakat (Laz) yang dibentuk masyarakat dan dilegalkan negara bisa menggunakan hak amil untuk biaya operasional.

Dalam Fiqhuz Zakah,Yusuf Al Qaradlawi menjelaskan hak amil zakat. Ada yang mengatakan seperdelapan (atstsumunu) dari perolehan harta zakat yang terkumpul (hal ini jika delapan mustahik zakat ada, jika yang ada hanya 7 ya dapat bagian sepertujuh, jika 6 ya bagian seperenam, dan begitu seterusnya), namun jumhurul ulama (mayoritas ulama) membolehkan lebih dari seperdelapan dgn standar mencukupi kebutuhan amil dengan melihat situasi dan kondisi. Oleh sebab itu, intervensi negara sangat menentukan kesuksesan zakat.

Di Pati, alhamdulillah Bupati Pati mempunyai komitmen kuat mendorong kesuksesan zakat, bahkan mendorong setiap desa didata minimal 2 calon muzakki perkecamatan yang akan dimotivasi langsung Bupati untuk berzakat. 

Semoga dengan intervensi negara ini potensi zakat di Pati sebesar 20 milyar bisa tergali secara bertahap dan terus mengalami peningkatan. Perolehan dana zakat di Pati sekarang masih sekitar 3 milyar (terdata), sehingga potensinya masih sangat besar. 
Dalam konteks ini dibutuhkan amil zakat yg amanah dan profesional.
Demikian hasil audiensi Program Studi Manajemen Zakat Wakaf IPMAFA Pati sengan Bapak Bupati Pati di ruang kerja Bupati, Sabtu, 5 Agustus 2017
Pati, NU Online
Zakat sebagai rukun Islam yang paling mengenaskan harus ditegakkan bersama-sama. Semua umat Islam mempunyai tanggungjawab mengangkat derajat zakat supaya sama tegaknya dengan shalat, puasa, dan haji di mana kesadaran kolektif umat Islam sudah terbangun dengan baik dan mengakar. Jika zakat ini tegak, maka kemiskinan umat dan bangsa yang masih melilit sampai sekarang bisa teratasi dengan baik. 

Kontribusi zakat secara efektif dalam pengentasan kemiskinan diakui berdasarkan riset Institut Teknologi Bandung (ITB). Kemiskinan yang masih besar, sekitar 28,5 juta jiwa pada tahun 2015 harus ditumpas dari berbagai segi, baik melalui program pemerintah maupun partisipasi publik secara luas, seperti zakat, infak dan sedekah.

Dalam konteks ini, Program Studi Manajemen Zakat Wakaf Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati, Jawa Tengah mengadakan kajian rutin pengembangan konsep zakat wakaf. Tampil sebagai narasumber Ketua Program Studi Manajemen Zakat Wakaf Ipmafa Jamal Ma'mur Asmani. 

Menurut Jamal, zakat adalah instrumen efektif ajaran Islam untuk keadilan ekonomi umat manusia. Dengan zakat, Allah mengingatkan manusia bahwa ada hak sosial yang melekat kepada orang-orang yang diberikan kelebihan rizki oleh Allah SWT yang harus dikeluarkan.

Dia menjelaskan, salah satu contoh sosok kiai yang dikenal pemikiran cemerlang dan aksi riil tentang zakat adalah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, ulama kharismatik yang dikenal dengan bendera fiqh sosial. 

Kiai Sahal, kata Jamal, mendorong optimalisasi zakat produktif. Zakat produktif membutuhkan skills entrepreneurship yang handal dari mustahiq (orang yang berhak menerima zakat), sehingga dibutuhkan pelatihan secara intensif dan berkelanjutan. 

Selain itu, zakat produktif membutuhkan manajemen modern supaya berjalan dengan baik. Manajemen modern ini bertugas melakukan inventarisasi dan identifikasi potensi umat, kemudian membangun tim yang ahli untuk mengelola dana, kemudian membagikannya kepada mustahiq dengan model basic need approach (pendekatan kebutuhan dasar). 

“Mustahiq zakat kemudian dikelompokkan dan diberi modal dari hasil zakat. Selain itu, mereka juga diberi pendidikan, keterampilan, dan motivasi untuk menggerakkan perubahan dari potensi mereka sendiri. Dalam menerapkan zakat produktif ini, Kiai Sahal tetap meminta izin mustahiq sebagai syarat yang harus dipenuhi,” jelas Jamal.

Sekretaris Prodi Luthfi mengatakan, Prodi Manajemen Zakat Wakaf Ipmafa menggalang kerja sama efektif dengan berbagai lembaga zakat, baik nasional maupun regional, seperti Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) dan Lazis Jateng untuk menyosialisasi gerakan sadar zakat dan menyalurkan zakat kepada lembaga yang akuntabel dan profesional.

“Sehingga niat baik orang yang berzakat (muzakki) bisa terealisasi dengan memuaskan,” ujar Luthfi.

Prodi Manajemen Zakat Wakaf juga menjalin kerja sama dengan Forum Zakat Nasional (FOZ) untuk menguatkan kelembagaan dan memperluas akses para alumni Prodi dalam berkiprah di masyarakat. (Red: Fathoni)
Oleh Jamal Ma’mur Asmani
“Di hari suci ini, keluarga, kerabat, teman, tetangga, guru-murid, pejabat-rakyat, dan seluruh lapisan masyarakat bersilaturahmi satu dengan yang lain untuk menengok keadaan dan memohon maaf atas segala kesalahan”

LEBARAN atau Idul Fitri adalah momentum merajut kesalehan sosial. Setelah kesalehan ritual diperjuangkan umat Islam selama sebulan penuh dengan melaksanakan puasa, tarawih, tadarus Alquran, tahajjud, dan iktikaf, maka Lebaran atau Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk mewujudkan kesalehan sosial.

Kesalehan sosial adalah perilaku manusia yang menebarkan kemanfaatan dan menghindarkan kerusakan bagi orang lain. Kesalehan sosial dimulai dengan menunaikan zakat fitrah sebagai simbol kepedulian Islam terhadap nasib orang-orang fakirmiskin. Nabi bersabda: puasa bulan Ramadan digantungkan antara langit dan bumi dan tidak diangkat kecuali dengan zakat fitri (HR Abu Hafs Ibn Syahin).

Zakat fitrah berfungsi untuk menyucikan orang yang berpuasa dari dosa-dosa yang dilakukan ketika sedang berpuasa dan sebagai sedekah kepada orang miskin.

Dalam membangun kesalehan sosial, silaturahmi menjadi kuncinya. Silaturahmi menambah keberkahan rizki dan memperlambat kematian (Abi Abdillah Abdussalam, Ibanah al-Ahkam, Juz 4, 2004, h. 342-343). Dalam bahasa modern, silaturahmi adalah media efektif untuk mengembangkan jaringan (networking relationship) yang berperan besar dalam mengantarkan kesuksesan seseorang di masa depan dan mengurangi beban hidup yang menumpuk. Pada era globalisasi informasi sekarang, jaringan adalah modal utama dalam meningkatkan kualitas di sektor mana pun, karena jaringan dapat dimanfaatkan untuk bersinergi dengan cepat. Tanpa sinergi antarkekuatan, seseorang akan terpinggirkan di tengah kompetisi yang sangat ketat.

Di sinilah hakikat dan hebatnya silaturahmi pada saat Idul Fitri, karena banyak manfaat yang bisa diambil, seperti harmonisasi sosial, meminimalisasi konflik, tukar-menukar informasi, menjalin kerja sama, dan menumbuhkan optimisme dalam menatap masa depan.

Silaturrahmi ini tidak hanya sesama umat Islam, tetapi universal, lintas sektoral. Umat Islam tidak boleh berpikir eksklusif dan ekstrem, tetapi harus toleran, inklusif, dan moderat. Sudah waktunya spirit ajaran Islam dikembalikan kepada visi besarnya, yaitu sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil-alamin). Kehadiran Islam tidak hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia dalam menebarkan persaudaraan, kerukunan, dan kedamaian hidup lahir dan batin. 

Piagam Madinah yang digagas Nabi di Madinah adalah prasasti sejarah yang harus diteladani umat Islam di seluruh dunia, bahwa persatuan dan kesetaraan adalah modal besar dalam membangun bangsa, sehingga tidak boleh mencaci maki, bermusuhan, berprasangka buruk dan melecehkan harga diri orang lain. Nabi bisa bekerja sama dengan nonmuslim di Madinah, sehingga stabilitas politik dan ekonomi terjaga dan kemajuan di sektor pendidikan dan keamanan tercapai dengan baik.

Open House
Open house pada waktu Idul Fitri yang diadakan para pejabat, mulai presiden, gubernur, bupati, wali kota, camat, kepala desa, tokoh agama dan masyarakat adalah budaya positif yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa, sehingga dari tahun ke tahun harus terus dikembangkan. Dalam open house, masyarakat bisa langsung bertemu dengan pemimpin tanpa aturan protokoler formal. Pemimpin langsung melihat masyarakatnya sebagai modal dalam mengevaluasi kepemimpinannya, apakah sudah menyejahterakan masyarakat apa belum, dan rakyat bisa menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pemimpin sebagai masukan berharga bagi pemimpin dalam merumuskan program dan kebijakannya.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah sila terakhir Pancasila yang menjadi tujuan pembangunan. Open house dapat dijadikan pemimpin sebagai salah satu parameter apakah program dan aplikasinya sudah sukses dalam menegakkan keadilan sosial atau belum. Dalam konteks ini, maka sangat baik bagi seorang pemimpin membuka ruang komunikasi, baik secara fisik maupun online, seperti twitter, facebook, dan sejenisnya, supaya masyarakat dapat menyampaikan gagasangagasan cemerlang kepada pemimpin kapan pun tanpa dihalang-halangi aturan birokrasi.
Tradisi silaturahmi saat Lebaran ini kemudian dikenal dengan istilah halalbihalal, yaitu tradisi saling memaafkan kesalahan dan memohon doa untuk keberkahan hidup. 

Di hari suci ini, keluarga, kerabat, teman, tetangga, guru-murid, pejabat-rakyat, dan seluruh lapisan masyarakat bersilaturahmi satu dengan yang lain untuk menengok keadaan dan memohon maaf atas segala kesalahan.

Kepada orang tua biasanya dibawakan bingkisan sebagai hadiah di hari kemenangan. Tradisi halalbihalal di Indonesia adalah buah perjuangan para penyebar agama Islam zaman dulu yang mampu membumikan ajaran sosial Islam pada waktu yang tepat. Dalam Islam, di antara sifat penghuni surga adalah suka menginfakkan harta dalam keadaan susah dan lapang, mampu menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain, dan membalas kejelekan orang lain dengan kebaikan, baik dengan memberikan kemanfaatan atau menolak bahaya kepadanya (Wahbah Zuhaili, Tafsir Munir, Juz 2, 2009, hlm. 411-414).
Dengan langkah ini, halalbihalal mampu menjadi momentum taubat nasional bagi bangsa. Dalam Islam, taubat jika berhubungan dengan manusia akan diterima Allah Swt jika memohon ampunan kepada manusia yang bersangkutan dan mengembalikan hal-hal yang diambil dengan jalan yang tidak benar (Muhyiddin Abi Zakariyya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Riyadl al-Shalihin, hlm. 12-13).

Perbuatan zalim yang dilakukan harus dihapus saat Idul Fitri supaya menjadi manusia yang benarbenar fitri (suci), yaitu manusia yang konsisten memegang agama. Perbuatan zalim adalah menentang Allah dan mengambil hak orang lain dengan jalan batil (Ali As-Shabuni, Min Kunuzis Sunnah, hlm. 9 & 51).

Dalam konteks ini, maka jika pemimpin pernah mengorupsi uang rakyat, maka sudah semestinya di hari suci ini mereka mengembalikan uang tersebut kepada rakyat agar ke depan program pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kualitas pendidikan untuk rakyat berjalan secara optimal dan produktif. Tidak cukup bagi pemimpin sekadar memohon maaf tanpa mengembalikan uang rakyat yang dikorupsi.

Melihat besarnya makna Idul Fitri dalam membangun kesalehan sosial dan melaksanakan taubat nasional, maka umat Islam, khususnya para pemimpin tidak boleh pasif, dalam arti menunggu orang lain datang ke rumahnya, tetapi harus proaktif, yaitu bergegas mendatangi orang-orang yang berjasa dalam hidupnya, seperti kedua orang tua, dan orang-orang yang pernah kita sakiti, untuk segera memohon ampunan atas segala dosa. Mental proaktif ini harus dibangun pada umat Islam, supaya mereka tidak kalah cepat dalam menjemput peluang yang ada di depan mata. Kecepatan menjadi keniscayaan di era kompetisi. Siapa yang kalah cepat, maka dia tersingkir. Khusus untuk pemimpin, Idul Fitri ini harus melecutkan semangatnya dalam mengabdi dan melayani rakyat, khususnya mereka yang hidupnya serba kekurangan. Pemimpin harus membuka mata dan hati, bahwa ternyata kemiskinan dan pengangguran di Indonesia masih sangat besar, sehingga dibutuhkan kerja keras untuk mengatasinya.

Semoga Idul Fitri ini menjadi momentum introspeksi dan evaluasi total untuk merajut masa depan yang cerah demi kebangkitan bangsa tercinta. (42)

— Jamal Ma’mur Asmani, peneliti Pusat Studi Pesantren Fiqh Sosial Institute Ipmafa Pati, pengurus Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (Asosiasi Pondok Pesantren NU) Jawa Tengah
Semoga Idul Fitri ini menjadi momentum introspeksi dan evaluasi total untuk merajut masa depan yang cerah demi kebangkitan bangsa tercinta.(42)
Sumber: Suara Merdeka